Membuat Tempat Benang Sendiri

akhir-akhir ini, mood jahit tuh lagi ngabur kemana tahu, sampe aku cari-cari tapi nggak ketemu. beneran deh! tapi bercanda…

ya sudahlah, nggak usah dipaksa… mulai pelan-pelan aja, enjoy it!

sebenarnya malam yang agak dingin tapi gerah ini, aku ingin bercerita sesuatu, Dearest…, bukan bercerita tentang menjahit, tapi justru peralatan perang dari menjahit itu sendiri.

jadi, ceritanya…, aku tuh semrawut banget tentang urusan benang-membenang (apaan sih bahasanya? emang ada gitu: benang-membenang? ngaco banget ya?)

masalah benang sebenarnya hanya sebuah masalah simple, wong benangnya aja tipis kecil gitu kok, tapi justru masalah benang adalah masalah “semrawut” ya… kayak tulisanku malam ini.

dulu, pas jalan-jalan ke penjahit, rata-rata mereka punya storage benang yang–biasa aja sih–bisa bikin benang rapi terus. biasanya mereka bikin yang simple itu dari papan dan paku. cuma getok-getokin pakunya ke papan dengan jarak tertentu, terus simpan benangnya di  paku. jadinya? rapi…. nggak ada lagi tuh alasan meluruskan benang yang semrawut.

nah, aku juga pengiiiiiin banget punya yang kayak begituan. simple deh. penginnya udah lama banget, tapi belum juga dibikinin sama Kakanda tercintah…

kendala dari pembuatan tempat benang itu adalah karena spesifikasi yang aku inginkan: tidak karatan!

nah lo…. gimana bisa nggak karatan? yang namanya paku kan dari besi…, besi kan karatan!

dengan demikian, kami harus mencari barang subtitusi dari paku sebagai penyangga benang-benang tersebut, dan kemudian ide-nya muncul: gimana kalau kita membuatnya dengan sumpit? sumpit yang dari bambu yang biasanya kalo kita beli mie ayam dibungkus itu suka dikasih tuh sumpit begituan. tapi aku enggan, kurang elegan kesannya. ya udahlah ya… ke-pending lagi itu bikin si tempat benang, sampe akhirnya aku bikin tempat benang akal-akalan yang kayak gini:

tempat benang akal-akalan

tempat benang akal-akalan

itu tuh hanya memanfaatkan box bekas, terus di susun-susunlah itu benang di dalamnya, terus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan (baca: benang acak-acakan) saat salah satu benang di ambil dari posisinya, maka digunakanlah dakron sebagai penyangga. alhamdulillah, keruwetan benang sedikit teratasi dengan tempat benang akal-akalan ini.

benang

benang

singkat cerita, ketika sedang butuh kayu untuk membuat ram nyamuk, pergilah ke toko kayu (madura-kami menyebutnya) tidak sengaja mata ini menangkap satu bayangan yang kece (hahahaha) yaitu satu tongkat yang keren, agak panjang, kira-kira 75 cm, dirasa itu kayu kayaknya diameternya pas dengan diameter lubang benang, maka belilah beberapa batang kayu itu. dicoba di rumah dan ternyata: PAS!

alhamdulillah, ya *Syahrini mode: On

tapi… pas coba lubang bobbin (atau spul ya…? ragu-ragu gitu deh… emang namanya apa ya?) … aaaah nggak masuk! ngebetein deh!

pending lagi dong ya….

tapi akhirnya, di toko yang tidak jauh dari toko kayu pertama, aku menemukan tongkat dengan diameter yang lebih kecil! yeay! belilah beberapa. dicoba lagilah. dan kali ini pas banget sama diameter spul itu. alhamdulillah *bernafas lega ala orang-orang yang lagi yoga.

langsung papannya ditandain dan di-bor, kayak gini:

papan, ditandai dan di bor

papan, ditandai dan di bor

itu yang garis-menggaris diriku, tapi yang bor-mengebor, Kakanda-kuh. selanjutnya, tandai ukuran yang diinginkan pada tongkat yang diinginkan, kalau tidak salah aku memotong sekitar 7 sampai 8 cm (kalau tidak salah ingat ya), sama seperti sebelumnya, tugasku adalah menandai tongkat yang akan dipotong (lebih tetapnya: digergaji) sementara tugas Kanda adalah menggergajinya.

mkm... mari kita menggergaji

mkm… mari kita menggergaji

sebenarnya tools-nya kurang pas… gergaji kayu dengan gergaji besi… hahaha, tapi apa boleh buat, tak ada gergaji kayu, gergaji besi-pun jadi, begitulah kira-kira peribahasanya.

pengganti paku

pengganti paku

setelah selesai dari urusan gergaji, berikutnya kita beralih ke urusan memasukkan si pengganti paku itu  (mari kita menyebutnya: paku kayu) ke lubang yang sudah disedikan di papannya:

memasukkan paku kayu

memasukkan paku kayu

setelah itu, agar lebih pas dan tidak mudah goyang, marilah digetok-getok pakai palu:

getok-getok

getok-getok

maka, hasilnya adalah:

paku kayu yang berbaris dengan rapi

paku kayu yang berbaris dengan rapi

tempatbenang_009

sudah jadi deh… siap untuk dipasangkan dengan pasangannya masing-masing (benang-red), beginilah jadinya:

benang-benang yang tidak semrawut lagi

benang-benang yang tidak semrawut lagi

jreng… jreng… jreng… inilah barisan benang-benang yang rapi dan cantik. gimana? solusi mudah bukan? bikin sendiri aja yuk. it’s simple.

FYI, untuk biayanya kurang lebih

  1. Papan Kayu yang sudah diserut    Rp. 25.000
  2. tongkat kayu 10 buah                      Rp. 25.000

jadi total biaya yang dibutuhkan untuk membuat tempat benang ini hanya Rp. 50.000 (tenaga nggak dihitung ya… :D) dan tempat ini bisa menampung 18 x 6 = 108 benang.

yeaaaaay…. lambaikan tangan pada kamera dan katakan: “bye… bye… benang kusut!”

Tangerang Selatan, 31 Agustus 2015 malam-malam tapi diselesaikannya 6:40 WIB
-diantian-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s