Mesin Obras benang 4 merk Yamata – part 2

ini kelanjutan kisa dari part 1 ya…. silakan baca part satunya dulu kalau mau tahu cerita lengkap, ya… walaupun GJ, semoga saja menghibur.
——————————————————————————————————–

it’s okay tralalala syubidambidam. uang untuk beli mesin obras udah ada di genggaman, eh, salah, maksudnya rekening tabungan. Selasa pagi pun tiba, tentunya bangun dengan lebih bersemangat dong ya Say…., mau pesan Meson obras sihhh siapa juga yang nggak semangat?

tapi…. tiba-tiba Kanda kasih info kalau ada sms dari penjual mesin obras yang sempat kami hubungi hari ahad lalu.
“bunda belum pesan, kan?” kata Kanda.
ya untungnya aku belum pesan. langsung deh, balas sms si penjual Mesin Obras pake hp sendiri (bukan hp Kanda, karena mau kerja).

kamipun sms-an, telepon, dkk, tanya tipe-nya dan jujur sih yaaaa…. agak ribet juga karena sang penjualnya juga sibuk. lagi nungguin ibunya di RS. yaaaa…. skip lagi dongssss…

hal terpenting yang mesti dilakukan adalah bersabar. karena ini adalah Kuasanya Allah. kalau takdirnya aku jadi beli mesin obras, pasti jadi deh. kalo nggak, ya pasti nggak jadi juga!

janjian, janjian dan janjian untuk ketemuan. gagal lagi. gagal lagi dan lagi!
Kanda inginnya COD (Cash On Delivery), bayar di tempat yang berarti kami tidak perlu ribet kesana. terima beres di rumah.

masih terus berkomunikasi intens lewat whatsapp, mesin jahitnya merk Yamata, type FY747A, baru beli beberapa bulan yang lalu, tapi belum sempat dipakai karena harus keluar kota saat setelah beli. sedangkan mesin jahitnya merk Juki, type DDL8500 (kalo nggak salah ya…). semua dijual satu paket seharga Rp. 4.000.000 dengan syarat diambil sendiri karena tidak ada yang bisa mengantarkannya.😦

terus berkomunikasi akhirnya bertemulah win-win solution-nya yaitu boleh COD dengan harga naik setengah juta. AIH!!!! setengah juta, Cintttt…. bisa beli bahan berapa banyak tuh?!!!

di lain sisi, penjualnya juga enggan untuk COD dengan alasan tidak mau seperti menjual kucing dalam karung yang artinya beliau ingin memastikan bahwa pembeli benar-benar tahu kondisi barang yang ia jual. ya bener juga. biar sama-sama enak. di sisi lain lagi, penjual kasih info kalau sudah banyak yang menghubunginya untuk melihat dan membeli mesin obras itu. Aiiiihhhh ini sia artinya siap-siap rebutan. tapi…, eits…. sang penjual pun ber-whatsapp dengan begitu manisnya, “karena mbak Dian yang pertama sms dan telepon saya, maka saya mengutamakan mbak Dian.”

Addduuuuuh…, siapa sih yang nggak bahagia digituin?
bahagia bener kan? walaupun kita cuma berhubungan sebagai penjual dan calon pembeli…

hingga hari Kamis pun tiba, disepakati bahwa aku dan Kanda akan lihat kondisi barang ke TKP (tempat Kejadian penjualan… hehehe). setelah sempat mampir ke Kantor Pos dan sekaligus JNE (karena lokasinya berdekatan), kami tiba di Kebon Nanas, Cikokol, cari alamat yang dimaksud dengan mengandalkan gadget Kanda melalui app google maps (lagi-lagi dan lagiiiih, ini bukan iklan!!! tapi kami memberitahukan kepraktisan akan hidup di jaman ini).

yippie! rumah yang dituju pun tepat di hadapan. bertemulah diriku dengan seorang wanita manis berusia sekitar 40 tahun-an. friendly bingits orangnya. ramah tak terkira. dan karena aku seusia dengan anaknya, maka aku pun diposisikan seperti anaknya. ealaaaaahhhh…🙂

ceki-ceki barangnya. dilihat-lihat. diintip-intip. dipegang. diraba. di-terawang (bagaimana cara menyusun benangnya). dan segalanya-segalanya. di-demokan. diajarin step by step. gradually.

“ini gini. ini gitu, caranya seperti ini. nanti kalau mau dipakai, diisi minyak dulu bagian bawahnya. bla-bla-bla.”
“ini cara pakainya seperti ini.”
“kalau mau ganti benang, nanti diikat saja benang yang lama dengan yang baru seperti ini.”
“terus yang ini begini.”

terus… terus… terus… dan terus….
seraya ikut short course, sembari menyesal duh… kenapa nggak dari pagi aja ketemu si ibu itu!!! hahahaha

diajari pula cara pakai mesin high speed-nya.
“Injak pedalnya seperti ini. cara belajarnya seperti ini juga, biar bisa ngerem sewaktu-waktu. nah, yang ini begini ya…. kalau mau jahit yang seperti ini, caranya begini ya…., ini jangan ditarik sebelah sininya, tapi yang ditarik yang sebelah sini aja. biar jahitan rapi. nggak meletat-meletot.”

usut punya usut, si ibu ini sudah punya pengalaman kerja di butik selama dua puluh tahun dengan designer kenamaan yang saya lupa namanya designer-nya. beliau memilih untuk buka usaha di rumah, tapi sayang suami pindah ke luar kota, jadi beliau ikut keluar kota juga. mesinnya dijual untuk membeli mesin baru di tempat yang baru karena khawatir mesin akan rusak bila dikirim pakai cargo ke kota tujuan. begitulah. ilmunya buanyaaaaakkk.

pelajaran penting yang kudapat hari itu adalah: jam terbang memang menentukan kualitas. itulah penjahit. makanya, kalau ketemu yang susah, yang ribet, yang melengkung-lengkung. jangan nyerah. kalo gagal, ya coba lagi. untuk dapat hasil bagus, merelakan bahan 5 sampai 10 meter juga nggak masalah. sekali lagi, intinya jam terbang!”

“kalo kamu mau kerja di butik, minimal pertama-tama kamu harus bisa lolos bikin sengkelit gini. kalau kamu bisa. pasti kamu masuk,” begitu nasehatnya. sengkelit memang kayaknya susah untuk penjahit pemula macam aku ini. nanti kalo udah bisa, penginnya deh bikin buku, tutorial atau apapun lah namanya agar aku bisa meninggal dengan membawa pahal amal jariyah. eheheehehehehe…. omongannya kan…. *ustadzah mode: ON

harga sepakat. untuk dapat dua mesin itu, aku merogoh kocek 4 juta. selesaikah sampai disitu?
belum, Sayaaaaaaangngngngng….

sekarang giliran bingung mau dibawa pulang pake apa! karena kami kesana naik motor. ya mana bisa dua mesin berat itu dibawa pake motor. itu sih namanya: ngaco!

si ibu memberikan nomor telepon mobil sewaan. tarifnya 300 ribu dari daerah pineapple garden (baca: kebon nanas) sampai ke rumah, tapi…. orangnya bisa antar setelah lewat jam 5. ARGGGHHHH!!!! masih jam setengah empat harus nunggu sampe jam 5? nggak deh!!!

akhirnya kami keliling-keliling daerah sekitar. siapa tahu ada mobil sewaan murah dan bisa saat itu juga mengantar. hasilnya adalah: nol!!!

hingga kami pasrah. dan akhirnya menuju Jalan Raya, menghentikan angkot yang sedang tak berpenumpang alias kosong. menanyakan maukan di-carter untuk mengangkut dua mesin. kami tanyakan tarifnya. ealaaaah 100 ribu, maaaaaakkkk….
langsung dong aku dan Kanda sepakat. 1/3 dari harga mobil pick up sebelumnya!!!

bernapas lega telah mendapatkan alat transportasi. dan kamipun berangkat. Kanda dengan motor, sedangkan aku naik angkot bersama dua mesin baruku itu.

Alhamdulillah.
rezekiku ada disitu. belum keserobot orang lain.
sekali lagi ya, dapat:
1. mesin obras 4 benang merk YAMATA FY747A
2. mesin jahit hidg speed DDL8500
3. ilmu dunia penjahit yang sudah pengalaman di atas 20 tahun (ini yang tidak ternilai!!!)

ini, Kawans foto mesin jahit high speed-nya:

mesin jahit high speed

mesin jahit high speed

walaupun katanya ada mesin jahit KW untuk merk Juki ini, ya nggak papa deh, walaupun bukan buatan Jepang. aku hanya berdo’a dan berharap semoga mesin ini awet dan bisa diajak kerjasama untuk waktu yang lamaaaa.

sedangkan ini foto mesin obras benang 4 nya:

Mesin Obras benang 4

Mesin Obras benang 4

kiss kiss jauh deh buat si ibu kece yang baik hati yang sudah menjual dua propertinya untuk saiyaaa. makasih ya Bu…

thank you for visiting my blog.
makasih ya Mbak, Maaa, bunda, sista…., cici…, buibu, mama, tante, om, dkk deh ya….

Tangerang Selatan, 11 October 2014 13:59

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s