KRL, ibu hamil dan aku

kenapa aku mau posting sekarang dengan judul seperti di atas? alasannya adalah karena sedang hangat-hangatnya pembahasan mengenai satu perempuan (yang katanya ABG) yang menyindir ibu hamil yang meminta kursinya. yuk ah, cek disini.

yang kita tahu, kereta itu transportasi massal, yang namanya massal pasti dong banyak yang make, banyak penggemarnya, banyak penumpangnya, banyak fans-nya atau apalah namanya. yang namanya satu dikerebutin orang, pastilah jadi bahan rebutan yang pasti main sikut sana sini, nggak kenal usia ataupun gender.

memang, ya, kalau kita lihat, di setiap gerbong kereta itu ada yang namanya kursi prioritas, kursi ini dikhususkan buat orang-orang tertentu, yaitu ibu dengan anak balita, wanita hamil, orang tua renta, dan orang yang cacat.

kalau tidak salah, di setiap gerbong ada empat kursi prioritas, satu kursi panjang bisa memuat tiga sampai empat orang.

sebagai orang timur yang punya ada sopan santun yang luar biasa, kita tentu terbiasa diajari untuk bertoleransi, kepada siapapun itu yang sekiranya lebih membutuhkan daripada diri kita.

juga sama halnya dengan kursi prioritas yang ada di kereta itu, yang lucunya sering juga diduduki oleh orang-orang bukan prioritas.

sebagai sesama pengguna Commuterline, saya sudah tentu tahu perihal kursi prioritas, sebab itu saya selalu mencari tempat duduk yang bukan kursi prioritas sehingga ketika ada orang yang ‘berhak’ atas kursi prioritas tidak begitu saja dapat meminta kursi yang sedang saya duduki.

status saya saat ini adalah seorang wanita pekerja di Jakarta Pusat, sementara rumah saya di daerah Tangerang Selatan,  untuk menghemat biaya dan waktu tentu saya memilih menggunakan transportasi massal, yaitu kereta. saya tahu betul bagaimana kondisi kereta di jam padat (biasa terjadi di pagi dan sore hari). saya juga tahu betul gimana perasaan para karyawan kantor yang baru pulang dari kantor itu. lelah, capek, pengin cepat sampe rumah dan yang lebih diinginkan saat itu adalah dapat tempat duduk di kereta!

sebenernya adalah hal yang wajar bila seorang ibu hamil–yang notabene membawa beban–meminta jatah kursi prioritas itu, tapi adalah salah ketika wanita hamil itu meminta tempat duduk yang bukan di kursi prioritas, padahal kursi itu sudah ditempati orang lain terlebih dahulu.

yuk, dibuka-buka buku hadits-nya, bahkan Rasul saja melarang kita untuk meminta tempat duduk kepada orang lain walau dalam rangka menimba ilmu, yang diperbolehkan adalah meminta untuk menggeser agar kita dapat duduk, bukan menggantikan posisi orang yang sedang duduk, bahkan bila orang yang sedang duduk tadi pergi dari tempatnya, kemudian kembali lagi, maka dialah yang berhak atas tempat duduk itu.

bahkan untuk kasus path yang sudah saya berikan link-nya di atas itu, saya jadi berpikir lain.

yuk, kita buka mata kita, ngapain juga ibu hamil–di dalam rahimnya ada sebuah jiwa–harus berdesak-desakan di dalam kereta yang kita semua tahu di jam padat manusia itu seperti ikan sarden. jangankan di Indonesia, di Jepang yang katanya negara maju sekalipun kalau yang namanya jam padat itu sudah dipastikan manusia diperlakukan bak ikan sarden, bahkan mereka menyediakan petugas pendorong penumpang agar pintu kereta bisa tertutup.

balik lagi ke Ibu hamil, saya pribadi ingin mengatakan ini, “Bu, saya tahu ibu punya beban, jadi sebaiknya ibu istirahat saja di rumah, menikmati masa kehamilan, melahirkan hingga menyusui, biarlah si Bapak dari anak yang ibu kandung itu yang mencari nafkah, toh tanggung jawab bagi seorang suami untuk menafkahi istri dan anaknya, jadi ibu nggak perlu repot-repot berdesak-desakan di sini, dan nggak perlu adu otot sama penumpang lain yang tidak mau kasih tempat duduk.”

Dan maaf, pikiran saya jadi picik dengan dua pertanyaan yang saat ini terlintas di benak saya untuk para penghujat pemilik path yang mengaku benci sama ibu hamil itu.

coba, ya, pikirin baik-baik:
lebih jahat mana,
1. suami yang membiarkan istrinya yang hamil tetap bekerja dengan menggunakan transportasi massal yang kaya ikan sarden kalo pagi dan sore hari itu? atau…
2. penumpang transportasi massal yang udah capek-capek rebutan kursi biar dapet duduk karena perjalanannya jauh, lalu tidak memberikan kursinya untuk wanita hamil yang dibiarkan suaminya untuk tetap bekerja dan menggunakan transportasi massal?

* just thinking🙂

sebagai informasi, saya adalah seorang wanita yang sudah pernah hamil–muntah dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan sampai sembilan bulan, sudah pernah melahirkan dan memutuskan bekerja karena kebutuhan ekonomi, saya bekerja dengan menggunakan kereta commuter line, dari sejak ada kereta ekonomi sampe sekarang ekonomi dihapus, dari sejak harga tiketnya delapan ribu sampe sekarang hanya dua ribu.

Dan untuk beberapa saat saya ke kantor bersama anak saya. saat saya diberikan kursi prioritas, saya berterima kasih, saya tidak ada yang memberikan saya rela berdiri, toh anak saya juga lebih senang berdiri di kereta, merasakan sensasinya dan saya membiarkannya belajar bahwa di kereta ya kondisinya seperti itu.

Jakarta Pusat, 16 April 2014 19:16 WIB

8 thoughts on “KRL, ibu hamil dan aku

  1. Hai mbak
    Tulisan yg bgus. Nasihat nya juga ok. Tp kalo tulisan ini adl jawaban dr kasus yg trjd di path, tulisan mbak salah sasaran.

    Yg prtama : cewe yg di path itu gue sangat yakin belom hamil. Trbaca jelas dr postingan di pathnya

    Yang kedua : ga ush bikin justifikasi tentang kehidupan ibu ibu hamil itu. Krena kita ga tau latar belakang keluarganya sperti apa. Apa iya ibu ibu yg hamil itu pst punya suami? Atau suaminya msh bs bkerja?
    Duh trlalu byk probabiliti yg mungkin.

    Yg paling afdol mnurut saya, ga ada salahnya menyerahkan tmpt duduk ke ibu yg hamil. Toh ga setiap hari juga anda bertemu ibu hamil yg tidak dpt tmpt duduk (di atau tidak di bangku prioritas)

    Jangan mencerminkan kehidupan anda untuk jadi pegangan bagi khidupan orang lain🙂

    • yang saya lakukan adalah jika saya mendapat kursi di bangku prioritas, ketika saya melihat ada orang tua renta atau ada anak kecil, serta merta saya akan berdiri dan memberikan kursi saya. tapi kalau saya sedang duduk di kursi bukan prioritas, terus ada ibu hamil yang meminta kursi saya, saya akan bertanya, “mbak darimana?” kalo jawabannya dari kantor, maka saya tidak akan memberikan kursi saya itu, karena apa? karena saya juga dari kantor. sama-sama capek, sama-sama lelah dan sama-sama ingin beristirahat di kereta. atau saya akan berkata, “silakan minta di bangku prioritas.” memang tergantung individunya dan seperti yang Mas katakan kita nggak tahu penyebab wanita hamil bekerja itu apa, tapi setahu saya, kalau di Jepang itu, wanita akan berhenti bekerja hingga anaknya sekolah. ketika anaknya mulai sekolah, maka mereka akan memulai bekerja kembali, mungkin–mungkin, ya– itu yang menyebabkan negera jepang jadi negara yang maju karena pondasi kokoh sebuah keluarga terletak pada sang ibu, orang pertama dan guru terbaik yang dimiliki sang anak.🙂

  2. Saya sangat menyayangkan dengan pendapat anda soal ibu hamil hrs diam saja di rumah, dan menyalahkan sang suami yg membiarkan istrinya yg sdg hamil bkrj. Apakah anda pernah pernah berpikir s ibu hamil ini suaminya sedang skt keras atau sdh janda? Atau alasan lain yg mengharuskan ibu itu bekerja? Atau mungkin ibu hamil itu bukan pergi bekerja tetapi ad urusan yg tdk bs dilewatkan. Tidak semua org mempunyai suami seperti suami anda yg sehat dan berkecukupan. Sy doakan dikehamilan selanjutnya anda tdk mengalami nasib yg serupa dgn ibu td. Dan sy doakan juga anak anda menjadi anak yg mempunyai empati yg tinggi terhadap sesama. Ingat Allah mengajarkan kita selain menjaga hub baik denganNya juga dengan sesama manusia. Dan ibu perlu ketahui hadist yg ibu sebutkan di atas itu hadist untuk posisi duduk maksudnya adalah kedudukan atau jabatan bukan tempat duduk. Mohon diperdalalam lagi bu ilmu agamanya.

    • kalau saya salah, saya mohon maaf. ini pendapat pribadi saya. saya hanya membaca buku saja, jadi nggak terlalu ngerti kalo yang dimaksud adalah kedudukan atau jabatan, yang saya mengerti adalah di tempat-tempat di majelis, Rasul melarang kita untuk menyuruh orang lain bangkit sementara kita duduk di tempatnya. maaf, kalau saya salah tafsir.
      kalau mengenai wanita hamil, coba perhatikan baik-baik wanita hamil yang biasa di kereta, maaf, biasanya mereka perlente, dengan smartphone mahal di tangan. tas keren, sepatu mahal. ini pendapat pribadi, ya, biasanya cukup atau tidaknya pendapatan suami, tergantung di pengelolaan keuangan keluarga itu sendiri, seperti gaya hidup. ada yang dengan gaji 1 juta, sebuah keluarga bisa hidup dengan kecukupan, ada juga yang penghasilannya 100 juta per bulan tapi masih korupsi karena masih tidak cukup.

  3. Mba dian… jangan samakan negara kita dgn d jepang yg semuanya sudah maju… mba sy juga pernah kuliah d jepang, d kereta jepang itu fasilitas untuk kaum prioritas banyak jd mereka ga perlu adu jotos buat minta tempat duduk… dan malah sy salut sama jepang yg katanya sifat individualistisnya tinggi dengan sendiri mereka memberikan kursi terhadap kaum prioritas tanpa melihat itu kursi utk mrk atau bukan.. dan perlu diketahui jepang negara maju, ibu hamil tidak bekerja di jepang msh mendapat tunjangan tdk seperri di indonesia..

  4. aduh,kenapa juga yg muda gk punya perasaan.coba kalau kejadian itu menimpa ibu kita atau diri kita sendiri,coba deh fikirkan lg klw mau menghujat.maaf ya…

  5. Inti dari kasus abg ini adalah menunjukkan betapa abg tersebut tidak punya empati terhadap ibu hamil. Mungkin krn dia belum pernah hamil. Tapi kalau anda yang juga seorang ibu tidak bisa berempati terhadap sesama ibu kok rasanya agak aneh ya? Bekerja atau tidak bekerja adalah pilihan seseorang. Dihargai saja. Kalau kita dihargai orang krn pilihan kita bekerja kita gak perlu repot repot klarifikasi kenapa kita harus bekerja. Dan saya ingatkan Rasulullah itu berbuat baik kepada semua orang tidak pandang dia lebih kaya atau lebih miskin

  6. Hi Mbak, salam kenal sebelumnya ya🙂

    Saya tidak akan membahas isi hadits karena jelas bukan kapasitas saya.

    Saya cuma tergelitik untuk sedikit berkomentar mengenai suami yang “kejam” karena membiarkan istrinya yg hamil tapi tetap bekerja & naik transportasi umum Jakarta yang kondisinya udah kayak kaleng sarden itu, saya pikir nggak pada tempatnya juga menilai (kalo gak bisa dikatakan menghakimi) seperti itu.

    Kita gak pernah tau Mbak, kondisi dan apa yang terjadi, atau pilihan2 dan pertimbangan2 yang dialami tiap rumah tangga orang lain. Mungkin penghasilan memang sudah sekian2 juta, mungkin menurut kacamata Mbak, duit segitu cukup untuk ngasi makan anak istri, tapi kita kan ga tau mungkin mereka perlu cari uang tambahan untuk membiayai orang tua/adik/kakak yang sakit? Who knows?

    Suami saya sendiri sangat tidak mengijinkan saya untuk bekerja di tempat yang jauh, tapi kebetulan saya sangaaaaat beruntung bisa “dapat” kantor yg jaraknya cuma 7 km dari rumah, cuma ngojek & naik angkot sekitar 30 menit udah nyampe🙂. Tapi kan gak semua orang bisa seberuntung saya. Apalagi kalo dibandingkan dengan ibu2 di Jepang, oh Mbak… Banyak di antara kita yang tidak seberuntung ibu2 di Jepang itu! Di sana ibu hamil tanpa perlu bekerja pun tetap mendapat tunjangan, lha di sini? Gak kerja ya gak dapet duit🙂. Jadi jangan sampe kita menilai (atau menghakimi) orang lain menurut ukuran kita sendiri.

    Eniwei, kalo saya naik kendaraan umum dan bisa duduk di kursi (bukan kursi prioritas) dalam kondisi sehat kuat gak hamil gak pincang gak bengek gak sekarat, trus tempat duduk saya diminta sama orang yang lebih membutuhkan, dengan senang hati akan saya berikan. Mau ibu hamil/orang difabel/orang tua perlente bawa gadget mewah, tapi kalo memang mereka lebih butuh duduk, saya akan berikan. Gak perlu nyuruh mereka cari bangku prioritas. Gak ada salahnya memberi bantuan kan? Dapet pahala loh!🙂

    *maaf jadi panjang komennya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s