Aku dan ceritaku

buat temen-temen yang suka baca blogku, mungkin udah tahu latar belakangku, yaitu pendidikan S1 dengan background teknik, menjadi seorang wanita pekerja di salah satu badan pemerintah, sekaligus ibu dari seorang anak yang sebentar lagi usianya 3 tahun, sekaligus juga (nekat) ambil kursus jahit dan mulai merintis usaha toko online di FB: diantian dan IG: diantiany.

ada masa-masa dimana semua kelelahan itu menjadi satu, ada masa-masa terlalu banyak waktu luang tapi begitu berat untuk tidak bermain dengan anak, semua dialaskan karena anak, begitu kangen, ingin peluk, ingin main, ingin dongeng, ingin cerita dan keinginan seabrek lainnya yang bahkan kadang ingin berangkat kursus jahit tetapi akhirnya memilih tetap di rumah sambil bermain dengan anak.

karena alasan itu juga yang akhirnya membuatku terkadang hanya mencatat sedikit catatan di tempat kursus dan meneruskannya di rumah, selain karena lebih nyaman menggunakan mesin jahit sendiri (baca: SUV1 alias Janome SUV 1122), juga karena ingin selalu dekat dengan anak, ingin menularkan berjuta aktifitas berkreasi agar kelak ia bisa menelurkan berjuta ide kreatifnya dalam bentuk yang tak pernah kuduga sebelumnya. anakku pun begitu antusias, bahkan beberapa hari lalu dia berkata bahwa dia saja yang menjahit dengan SUV1, namun jelas aku larang karena SUV1 bukan mainan. next time, suatu saat nanti aku ingin memberikannya juga mesin jahit, oven, komputer/notebook dan apapun yang bisa membuatnya berkreasi sekreatif mungkin. melihatnya bisa membuat mataharipun membuatku dan ayahnya terkaget-kaget suatu hari. karena, sungguh aku tak pernah mengajarinya menggambar matahari! dan ia membuatnya lengkap dengan titi mata, alis dan sebuah senyum yang akhirnya membuat diriku dan ayahnya tersenyum bangga dan berkata: she is awesome!!!

begitulah ceritaku, dan seminggu kemarin, aku libur tidak masuk kantor. menikmati masa-masa bersamanya, membuatkan karpet bordir untuknya agar bisa dijadikan alas saat ia duduk menulis atau menggambar di atas lantai dan ia senang sekali mendapat karpet itu walau hanya selembar karpet ukuran 1 m dengan hiasan felt bergambar bunga dan rumput. sebelumnya, aku sempat berbincang dengan ayahnya bahwa aku ingin resign dari kantorku agar dapat lebih bersama anak dan ayahnya hanya berpesan agar dipikirkan baik-baik hingga akhirnya aku katakan ideku untuk resign kepada atasan dan saat ditanya akan alasan resign, malah bingung hendak menjawab apa, tiba-tiba sekelumit bayang-bayang akan kantor terlintas di benak dan belum pernah aku merasa begitu sayang kepada kantor hingga air mata menggenang. bayang-bayang anak pun terlintas, saat ini aku berstatus sebagai seorang pegawai tapi aku merasa bahwa sama sekali tidak jauh dengan anakku, tikda berjarak, dia penurut (karena bundanya galak sepertinya), dia mau bercerita, dia mau belajar apapun yang kuajarkan. jadi… aku rasa posisiku saat ini–walaupun belum ideal–tapi nyaman untuk aku jalani, mendapat gaji bulanan tapi kedekatan dengan anak tetap terjaga.

terlalu banyak hal menarik dan mengejutkan yang kudapatkan dari anakku,

tiba-tiba bernyanyi, “wahidun satu, isnainin dua, tsalatsatun tiga, arba’atun empat, khamsatun lima…” atau…

“kok bunda nggak bilang terima kasih?” katanya saat menyerahkan sesuatu yang aku minta tolong padanya, sambil tersenyum aku katakan, “maaf, bunda lupa. terima kasih…,” lalu dengan senyum yang sangat manis dia menatapku.

Thamrin, 27 Februari 2014 22:24 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s