Be a struggler wife

pagi itu, aku bertanya padanya tentang alasannya untuk mengarahkanku menjadi seorang yang bisa mencari uang sendiri dan iapun menjawabnya, “karena keadaan. kalo hanya kebutuhan kita (bertiga–ia, aku dan anak kami), bunda nggak perlu kerja. kita bisa hidup sederhana dengan gaya kita, tapi karena ada kebutuhan lain, ada ‘janji’, maka sejauh ini bunda masih harus tetap bekerja untuk memenuhi janji itu.”

dan saat aku tanya tentang perasaan-perasaannya terhadap pekerjaanku saat ini diapun menjawabnya dengan agak berat, “sebenarnya dengan format kerja bunda yang seperti itu, ayah keberatan,” begitu katanya, membuatku makin merasa bahwa dia memang benar-benar memedulikanku.

pemandangan dari jendela kantor di lantai 20

pemandangan dari jendela kantor di lantai 20

apakah pekerjaanku saat ini terlalu berat? jawabannya sangat fleksibel, tergantung dilihat dari sisi yang mana. bisa iya dan bisa tidak. tergantung subyeknya dan obyeknya juga. yang membuat suamiku, kakandaku tercinta itu merasa berat adalah karena aku suka menggabungkan jadwal menjadi satu, bermalam di kantor (hingga maksimal dua hari berturut-turut tidak pulang), terbaca perasaan cemburu yang mendera hatinya saat ia berkata berat untuk membiarkanku bekerja dengan ritme yang seperti itu. tapi begitulah hidup. begitulah pilihan.

kini, saat aku memutuskan untuk menggeluti hobi lamaku dan hobi jualanku, saat kami (aku menyebutnya kami karena ini adalah usaha aku dan dirinya, bahkan sedikit ‘gangguan’ (baca: bantuan) dari anak kami) memulai usaha baru ini, diapun seolah terjun untuk terus mengarahkanku agar bisa fokus pada tujuan. tanpa kenal lelah mengantarku survey-survey, beli bahan ini dan itu, berdua naik motor ke cipadu, menunggu dengan setia di pelataran masjid, diskusi tentang konsep wirausaha yang akan dikembangkan, berbagi cerita tentang tren masa kini yang aku tahu, membantu membetulkan printer (yang padahal baru satu minggu lalu diganti catridge-nya) dan yang terakhir, membantuku mengedit logo untuk brandku tengah malam. semua dilakukan. tanpa kenal lelah. bahkan masih sempat main dengan kaka. di sela-sela mengerjakan program PHP-nya, di sela waktu harus ke notaris dan menyurvei lokasi bersama calon pembeli tanah. di sela seluruh kegiatannya, ia tetap setia menemaniku, bahkan di tengah sapanya di waktu istirahat siang, melalui whatsapp-nya dia bertanya: sudah maksi (baca: makan siang)?, sesuatu yang simple tapi terasa romantis. sebuah bentuk perhatian kecil yang justru berarti besar.

dan saat aku bertanya padanya kenapa dia melakukan itu semua, dia hanya menjawab pelan, “jangan pernah meninggalkan istri dan anak dalam keadaan lemah.” dijelaskannya tentang ajaran Rasul, bahwa sebaiknya wanita adalah mandiri, maka saat suaminya tiada nanti, wanita itu bisa struggle, bisa berjuang dan aku menyebutnya sebagai struggler wife. sementara struggler husband menurutku adalah laki-laki yang bukan hanya pandai mencari nafkah, tetapi juga pandai untuk membuat istrinya bisa mencari nafkah juga. mendidik istrinya untuk bisa mandiri dan tidak memiliki ketergantungan selain kepada Tuhannya.

alasan itulah yang membuatku makin semangat untuk berangkat les lagi dan pulang dalam keadaan basah kuyup tadi siang. sempat tidur sejenak sebelum dibangunkan kaka, lalu kembali melanjutkan memotong pola dan menjahit sebelum akhirnya berangkat ke kantor dengan kereta jam 20:39 WIB.

untuknya, kekasih hatiku, “terima kasih… :)”

Thamrin, 15 Januari 2013  23:34 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s