It’s start to sew

let’s go back…!

Bertahun-tahun lamanya cita-cita itu terpendam, dan akhirnya… trarara… suatu masa kesempatan itu datang!

Yap! It’s came!!!

I’m can say that’s i’m a amateur designer…

Waktu itu, menjelang sidang skripsi, harus pakai blazer, jadilah iseng membuat gambar blazer, dan ternyata di-approve sama mama untuk jahit blazer di tukang jahit langganan mama. ya… itulah blazer pertama yang aku gambar dan dijahit sama penjahit langganannya mama.

Itu waktu sidang skripsi lho…

kita mundur lagi ke belakang, yuk…

cerita punya cerita, aku dulu pernah ikut les jahit sama temannya mama yang seorang penjahit. Aku lupa, waktu itu SMP atau SD, yang pasti aku sudah belajar banyak dan harus berhenti menjahit karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan. Waktu itu juga, sudah banyak baju yang aku buat. Dua baju untukku, satu baju ngaji adikku dan dua buah celana. Lumayan lengkap untuk tingkat dasar.

Dulu juga, aku dibelikan mesin jahit, dari uang hasil menjual kalung emas yang nenek berikan untukku dan adikku, namun setelah berhenti les menjahit, tak lama kemudian mesin jahitku dijual. Stuck disanalah mimpiku untuk menjadi designer. Seolah berhenti. Diam seketika.

Kenyataannya menjadi lain saat aku masuk SMA, ternyata aku masih suka mengamati teman-temanku, apalagi pakaiannya. Juga selimut mereka. Dan disanalah aku masih suka membuat gambar design baju.

Hingga kini, keinginan itu masih tersimpan di hati. Sesekali akupun masih terus menggambar baju.

Tiba saatnya, pulang dari kantor yang terletak di Thamrin, mampirlah aku ke pusat grosir Tanah Abang, disana merasa sedikit sakit hati gara-gara belinya nggak boleh satuan! Padahal naksir sama baju-baju yang dipajang, dan pernah juga kecewa gara-gara bahan baju yang aku taksir nggak nyaman dipakai, tibalah ide untuk mencari toko bahan. Ingin hati menjahit baju, jadi atau tidaknya, yang penting beli bahannya dulu deh. Sampai habis 150 ribuan untuk beli bahan di tanah abang.

Sempat merahasiakan pembelian itu dari suami, tapi apa daya, aku tak bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Akhirnya aku bercerita bahwa aku membeli bahan dan dia cuma heran. Untuk apa? Pasti itu yang ada di pikirannya.

Akupun bercerita tentang masa laluku. Akhirnya dia mengerti. Dan aku katakan aku ingin kembali menjahit. (ibu mertuaku juga seorang penjahit)

singkat cerita, karena rayuanku belum berhasil meluluhkan hati sang Kanda untuk membelikan mesin jahit, akhirnya aku nekat membuat pola, cuma mikir simple aja, setelah semua pola jadi dan aku jelujur, nanti minta tolong sama yang punya mesin jahit, untuk jahit ulang jahitan jelujurku. It’s so simple!

Membuat pola menghabiskan waktu—mungkin–dua hari, selebihnya tergantung mood mengerjakannya, aku membuat rempel manual dengan jelujur (it’s so difficult!!!). Berkali-kali dijahit, kemudian dijahit lagi (sampai tiga kali jahit)

DAN… usahaku berhasil. Baju itu sudah berbentuk, walaupuan bagian leher dan lengannya belum selesai. Sebuah long dress (sack dress lebih tepatnya) tanpa lengan (you can see… hehehe)

hingga suatu malam, aku memberitahu suamiku bahwa pakaian yang kubuat sudah jadi. Sedikit heran dia berkata, “sudah kelihatan bentuknya,” sambil memerhatikan baju yang aku buat. Aku hanya tersenyum.

Tak disangka, dia berkata, “dipakai dong…”

it’s okay!

Akupun buru-buru mencoba baju itu (sebenarnya sudah berkali-kali-kali kucoba)

dan dia takjub melihat hasilku…, “cantik sekali…,” katanya.

MMM… bangga, alhamdulillah, ilmuku ternyata tidak hilang, hanya terpendam!

Ahad, 21 Juli 2013 17:58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s