Thank’s to read my blog…
Terima kasih kepada kalian semua karena mau meluangkan waktu untuk membaca atau sekedar melihat blog-ku ini. maaf sekali karena telah sekian lamanya aku meninggalkan blog ini.
jadi, sabar atas tulisanku selanjutnya, ya…
Thx…
Thank’s to read my blog…
Terima kasih kepada kalian semua karena mau meluangkan waktu untuk membaca atau sekedar melihat blog-ku ini. maaf sekali karena telah sekian lamanya aku meninggalkan blog ini.
jadi, sabar atas tulisanku selanjutnya, ya…
Thx…
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Jika akhirnya memang harus seperti ini…, aku tak kan pernah bisa untuk protes dan takkan pernah bisa. Sampai kapanpun…
karena…, semua ini adalah skenario-Nya… yang tak dapat diganggu gugat…
kalau memang harus seperti ini, ya sudah, aku akan mencoba untuk menerimanya…, dan aku hanya dapat berkata,
selamat menempuh hidup baru…
aku akan terus berdo’a untukmu
Biarkan semua ini memang seperti ini…
biarkan semua rasa ini terhapus dengan sendirinya.
semoga
Entah sampai kapan, aku tak pernah tahu…
do’akan aku juga, ya…
terima kasih…
just always love you…
Posted in Sesuatu yang Serius | Leave a Comment »
Terserah deh, lo maunya kayak gimana…
Terserah deh, lo mau ngomong apa…
Pokoknya semua terserah sama lo.
Lo denger?!
Terserah!
TER-SE-RAH!
TITIK!
Posted in gue? atau... aku? | Leave a Comment »
Pertama, terdengar suara kucing berantem, sekitar jam 2 atau 3 dini hari. Disusul dengan suara orang di masjid sekitar jam 4-an, membangunkan warga sekitar.
Nggak lama kemudian terdengar adzan bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lainnya.
Selesai adzan, tentu aja ada jeda sebelum akhirnya iqomat.
Selesai suara orang-orang shalat di masjid, giliran terdengar suara imam masjid berdo’a, kita tinggal: amin! Amin! Amin!
Itu rutinitas pagi yang tak pernah terlewatkan di sekitar rumah gue. Poin paling pentingnya terletak di bagian awal, yaitu suara kucing berantem. Akhir-akhir ini, banyak banget kucing di sekitar rumah gue. Gue sama sekali nggak tau asal tuh kucing. Tiba-tiba, kayak hantu, mereka pada nongol dan menganggu waktu tidur gue dan para tetangga. (tapi itu nggak masalah juga, soalnya di sini gue nggak akan ngebahas mengenai tuh kucing-kucing secara detail, ada yang jauh lebih penting dari sekedar membicarakan kucing!)
Dilanjutkan,
Beberapa saat setelah do’a imam masjid selesai, biasanya, sekitar jam setengah enam-mendekati jam enam, tetangga gue udah menggunakan sapu lidinya dan mulai menyapu halaman depan rumahnya.
Seraya terdengar suara lantang-cukup memekakkan telinga.
“LAUWWWW…”
Itu suara yang tak lain adalah milik seorang pedagang roti bermerk Lauw, yang selalu lewat bahkan sebelum jam di kamar gue menunjukkan pukul enam!
Disusul dengan suara yang serupa dari tape pedagang roti lainnya.
“…ROTI… ROTI… ROTIARA BAKERY…”
“ROTI RAJA! ROTI RAJA!”
Dan lain sebagainya… (khusus khas penjual roti!)
Selang beberapa saat kemudian,
“YURR…. SAYUR….”
Mulailah tukang sayur berdatangan satu-per-satu (sudah terjadwal, demikianlah).
Ada yang berteriak, ada yang hanya sekedar lewat dan ada yang tidak lewat (apa maksudnya?).
Disusul lagi oleh suara besi yang dipukul dengan semacam stainless steel. Itu suara tukang kue pancong! (dia sangat sayang dengan suaranya untuk berteriak, “kue pancong…”)
Kemudian suara ibu-ibu.
“Kue… kue… risol…, lontong…,” semua jenis jualanannya diteriakin!
Ada ibu-ibu lainnya.
“Cobro-nya, Ibu…,” menawarkan dagangannya ke tetangga gue ataupun ke nyokap gue yang lagi belanja sayur ataupun lagi ngepel teras depan. “…Pisang goreng…, getuk-nya…”
Dan kehidupan seru berikutnya dilanjutkan lagi.
Mulainya berdatangan suara motor. Berhenti seketika. Mesin tetap menyala. Seorang anak kecil berusia 4-5 tahunan diturunkan dari motor oleh bapaknya/ayahnya/abinya/papanya atau siapalah mereka memanggil ayahnya itu. Dan terkadang sang ibu, yang juga harus bekerja tetap berada di belakang sang Ayah.
Ataupun terdengar suara berisik sang ibu dengan anaknya yang berjalan dari segala arah. Sang anak memakai seragam TK.
Dan seterusnya. (di deket rumah gue ada TK!)
Dilanjutkan lagi…
Sekitar jam setengah delapanan, ada yang teriak,
“DONAT… DONAT…”
Nah, ini tukang donat langganan gue. Jangan lupa, donatnya yang ada kacangnya!
Tukang donat pergi, terdengar suara terompet khas tukang cendil, jagung dan ketan item yang makannya itu pake gula pasir sampa kelapa parut. (tukang ini suka berhenti lama di depan gue, biasanya ngobrol sama tukang julanan lainnya; tukang kue laba-laba, tukang mainan)
Berikutnya, suara mangkok dipukul dengan sendok terdengar nyaring. Itu adalah suara khas tukang bubur ayam dari arah perumahan di dekat rumah gue. Sekitar jam delapan lewat atau bahkan nyaris jam sembilan tukang bubur ini lewat.
Berikutnya lagi, suara mangkok yang juga dipukul dengan sendok. Nadanya beda dengan nada milik tukang bubur. Kali ini adalah berasal dari tukang bakso yang mangkal setiap jam sembilan sampai jam sepuluh di depan rumah gue!
Lanjut, masih sekitar jam sembilan, biasanya barengan sama tukang bakso, datangnya tukang sayur dengan suara khasnya yang kencang.
“YANG BELUM!… YANG BELUM…!”
(tukang sayur yang ini, langganannya adalah ibu-ibu anak TK, nyokap gue juga sih…)
Dan biasanya juga, tukang sayur ini, suka teriak…
“AYO… BUBURNYA… BUBUR…”
Teriaknya di saat persis kedatangan seorang tukang bubur ayam dari arah TK (berlawanan arah dari tukang bubur pertama yang udah gue ceritain tadi)
Tukang bubur ayam yang kedua ini datangnya sekitar jam sembilan lewat atau paling telat jam sepuluh lewat sekian menit. Yang ini juga langganan gue, soalnya buburnya enak (kata gue lho…)
Tukang bubur ini juga punya kebiasaan unik kayak tukang-tukang lainnya. Suara mangkok dan sendoknya terdengar sangat khas. (setiap penjual Pokoknya punya ke-khasan masing-masing deh! Serrrrru…. (r-nya empat!))
Selesai si tukang bubur lewat, disusul oleh suara yang berasal dari mangkok dan sendok juga (namun nadanya beda, khas deh…)
Kali ini yang datang adalah tukang bubur kacang ijo.
Lain lagi dengan tukang buah, yang memukul gerobaknya dengan kayu. (ini langganan adik gue!)
Masih dilanjutkan lagi,
Sekitar jam setengah sebelas-an, terdengar suara piring yang dipukul dengan sendok (nadanya beda dari yang sebelumnya). Si tukang ketoprak…
(ini juga ketoprak kesukaan gue dan keluarga gue… enak deh… murah pula! Satu piring besarnya hanya seharga 3000… 3000, Bo…!)
Ok, lanjut ke jam 12-an.
Kembali terdengar suara dari pertemuan antara sendok dan mangkok, kali ini yang datang adalah tukang es cendol (gue suka nih sama tukangnya, lucu banget, pas pertama kali (dulu), gue beli, si tukang ini ngajak gue ngomong pake bahasa sunda, lha…, mana gue ngerti! Akhirnya, gue jelasin sama si tukang itu kalo gue bukan orang sunda dan nggak bisa bahasa sunda, tuh tukang es cuma senyam-senyum doang…)
Di sela-sela kedatangan tukang es, biasanya juga lewat tukang asinan bogor (jumlahnya banyak,. Biasanya mulai lewat di jam 12-an… ada beberapa tukang (gue males ngitungnya).
Setelah tukang asinan, ada lagi tukang soto mie (bogor lagi…, bahasa Sunda lagi…), setelah tukang soto, biasanya lewat tukang tek-tek alias bakso malang. (penjualnya ada banyak)
Lanjut ke jam ½ 5-an, biasanya lewat Mbak-mbak yang jualan pecel (ada dua yang jualan, salah satunya langganan gue soalnya bumbu kacangnya rasanya enak banget), ada juga tukang roti sore. (ke-khasannya nggak beda sama tukang roti pagi)
Terus ke jam 6-an, pas adzan Maghrib, terdengar suara tukang gorengan (Ada banyak macamnya), disusul kemudian sama tukang siomay.
Lanjut (nggak tahu jam berapa karena nggak pasti lewatnya) ada tukang Sate Padang dan tukang mie/nasi goreng (jarang lewat, kalau pun lewat gue jarang beli, gue lebih suka sama kwetiau goreng yang ada di pinggir jalan), terus juga ada tukang sekoteng, atau (ini yang paling parah), sampai jam ½ 11-an masih ada orang jualan otak-otak (suaranya kencang… kalah suara gue!)
Setelah itu, kehidupan mulai meredup, sekitar jam 11-an biasanya udah sepi…
Dan dilanjutkan lagi ketika terdengar suara kucing berantem…
Posted in Uncategorized | 1 Comment »
Anak kecil tampan itu berusia 11 tahun. Kabur dari rumah pengasuhannya karena dia mengikuti suara-suara yang menyuruhnya untuk menghampiri. Dan dia dianggap agak tidak waras.
Di saat itulah dia bertemu dengan seorang laki-laki sebayanya—berkulit hitam—sedang mengamen. Dan-cerita-terus-berlanjut…
Yang menarik dari film itu: Musik!
Just one word! Just… music!
Awalnya, gue agak pusing dan nggak terlalu merhatiin ceritanya, karena film itu ditayangin di Metro-TV, maka gue memilih untuk tetep nonton dan gue emang suka film luar yang ditayangin di Metro, Trans TV dan Trans 7.
Kenapa?
Soalnya nggak di-dubbing dan tulisan terjemahannya warnanya putih! Bukan kuning!
Ok, back to film.
Di sana, banyak adegan yang membuat gue merasa nyaman karena musik yang dimainkan—baik oleh nyokapnya, Lyla Novacek, atau bokapnya, Louis, ataupun anaknya, Evan Taylor—sangat memukau. Amazing dan super-keren!
Instrument musik itu bener-bener bikin gue ngerasa gimanaaa gitu…
Saat nonton film itu, tentu aja gue jadi inget diri gue ketika SMA dan ketika gue kepengin banget bisa mainin Biola.
Dan, gue baru nyadar, selama ini gue masih punya banyak obsesi terpendam, salah satunya: bisa mainin—minimal—satuuuuuu aja musik klasik dengan biola… tapi… gue bahkan belum pernah nyentuh biola!
Intinya: film itu keren!
Intinya: gue masih pengin bisa mainin biola!
Posted in gue? atau... aku? | Leave a Comment »
Katanya: gue itu orang aneh!
Nggak percaya? Coba aja tanya sama orang-orang yang kenal sama gue.
Dan… gue nggak begitu tau sebenarnya apa yang orang pikir tentang gue. Yang gue tau, gue itu emang rada aneh!
Masih nggak percaya? Paling nggak, gue punya sedikit bukti.
Siang itu, gue duduk di beranda belakang kampus. Menatap pohon seri dan rerumputan yang bergoyang diempaskan angin. (sok nyastra…)
Segelas air putih ada di hadapan gue, berikut seonggok flash disk dan pulpen Drawing.
Gue duduk di beranda karena gue lagi nungguin bagian keuangan kosong. Dan ketika duduk-duduk santai layaknya di café mewah di Jakarta, seorang staf menghampiri gue, and she ask me. Pokoknya kita ngobrol ngalor-ngidul deh. Nggak jelas juntrungan-nya. (Betawi-nya keluar…)
Ketika lagi ngobrol, di kejauhan sana (halaman parkir kampus), gue melihat sesosok orang dengan memakai celana jeans sedang berjalan menuju kampus.
“Itu siapa?” tanya gue, secara mata gue minus, jadi orang itu nggak jelas.
“Pak Hadi,” kata si Mbak staf.
“Oh…, dipikir Angga,” kata gue sambil senyum.
“Angga mah tinggi, Dian…”
“Ya…, Angga kan biasanya juga pake jeans, dari sini kan nggak jelas itu siapa. Yang jelas cuma make celana jeans…” kilah gue masih memandang ke samping kanan. (Angga itu temen sekelas gue)
Dan ngobrol ngalor-ngidul seri dua dilanjutkan.
Nggak lama kemudian, Mbak yang duduk di hadapan gue menoleh ke samping kanan gue, dan secara refleks, gue juga menoleh ke samping kanan.
Pak Hadi!
“Eh…, Bapak…,” sapa gue, plus senyum ramah.
Beliau balas tersenyum.
“Saya lagi nggak makan kok, Pak…,” kata gue lagi seraya menunjukkan meja, membuat beliau dan Mbak staf terkekeh geli.
Kesannya cerita ini nggak nyambung kan?
Ya iyalah… secara kalian pada nggak tahu seri lengkapnya gimana…
It’s okay…
Jadi, cerita khas antara gue dan Mr. Hadi terjadi sekitar dua/tiga tahun yang lalu. Waktu itu gue lagi makan siang di ruang BAA/BAM sama staf sambil ngobrol nggak jelas.
Tiba-tiba Mr. Hadi datang.
And he said, “Saya kalau ketemu sama Dian, kalau lagi nggak makan, ya lagi bawa makanan…”
Dan semua tergelak. Tertawa lepas. Duh… Mister gue yang satu itu… ngocol juga ya…
Tapi itu emang bener. Emang jujur dari lubuk hati yang paling dalam (cie…). Beberapa kali, emang gue berpapasan dengan beliau pas gue lagi makan atau lagi bawa makanan.
So… beliau nggak salah kan?
Jadi…, kalau ketemu beliau dan gue nggak lagi makan atau nggak lagi bawa makanan, gue selalu bilang, “saya lagi nggak makan kok, Pak…”
And if I bring some food, I always say, “Saya kalau ketemu Pak Hadi, kalau saya lagi nggak makan, ya saya lagi bawa makanan…”
And he laugh…
HAHAHAHA…
Posted in gue? atau... aku? | Leave a Comment »
Apa hubungannya? Enggak ada, kan?!
Hahahaha!
But…, it isn’t just a title…!
It’s a my life story…
Jadi gini, sore itu, gue berdiri di dapur, nyokap gue tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur. “Dian…,” panggilnya, lantas gue langsung noleh.
“Kenapa, Ma?”
“Itu, singkongnya dikupasin, mau mama rebus buat papa buka puasa,” jawab nyokap dan langsung gue turuti sambil cemberut. (Hari giniiii… disuruh ngupasin singkong? Males banget deh!!!)
Dan ketika gue mulai meraih singkong-singkong tak berdosa itu… (ceile…), tiba-tiba adik gue (Dita) yang baru selesai mandi, muncul di ambang pintu dapur.
“Ngupasin singkong, ya, Teh?” tanyanya sambil berlalu.
Nggak gue jawab. Gue masih sibuk motong ujung-ujung singkong itu.
“Kan enak Teh ngupasinnya” kata adik gue lagi. Dia melongok.
“Ya udah… Dede aja yang kupasin,” kata gue tanpa berhenti memotong dan memilih singkong yang kecil-kecil. (sesuai petuah nyokap, singkong yang dikupasin, ukurannya yang kecil).
Nggak lama kemudian, adik gue muncul lagi, kali ini udah rapi dan wangi. (habis mandi!). tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung ambil posisi strategis di sebelah gue. Memulai aksinya mengupas singkong yang udah gue potong-potong.
“Dede yang kupasin, teteh yang potong-potong,” kata gue sambil terus motong. Dan adik gue—tumben—nurut senurut-nurutnya!
Nyokap gue dateng lagi, kali ini menyodorkan baskom ukuran kecil buat tempat singkong itu. Gue dan adik gue kompakan masukin singkong yang udah dikupas ke baskom itu.
Singkat cerita, selesailah mengupas singkong kecil-kecil yang malang nasibnya, gue mencuci si singkong di dalam baskom, sementara air di dalam panci sudah mendidih.
“Ma, udah tuh,” kata gue seraya ngebiarin tuh singkong (berikut baskomnya) di atas westafel. Gue-pun berlalu ke kamar.
Beberapa saat kemudian, gue balik lagi ke dapur. Pas gue nyampe dapur, gue liet tuh singkong udah masuk ke panci. Ke dalam air yang menggolak dahsyat!
Kemudian perhatian gue tentu aja terarah ke baskom bekas singkong tadi. Berniat mencucinya, sekaligus cuci tangan, gue mengambil gayung dan langsung nuang air ke tangan gue di atas baskom.
“Argh!!!” teriak gue. Kontan. Spontan. Kaget.
“Kenapa?” tanya nyokap yang berdiri di samping gue. Ikutan kaget.
“Panas…,” kata gue sambil mengibaskan tangan kiri gue yang kesiram air panas dari gayung itu. Bukannya nolonginm nyokap gue malah sedikit ngomel,
“Lagian…, nggak ngeliat apa itu air panas?!”
Egh! Kesel banget deh!
“Kan nggak tahu!” kilah gue, ngebela diri! “Itu kan gayung bekas nyuci singkong! Nggak tahu kalo isinya udah keganti jadi air panas!”
Nyokap gue senyam-senyum sambil ngambil kemasan minyak goreng dan tanpa ba-bi-bu, nuang sedikit minyak itu ke tangan gue.
“Yah… merah deh…,” kata gue sambil menatap tangan malang itu.
“Makanya liet-liet dulu,” kata nyokap gue sambil ngeliat tangan gue dengan iba.
Dan saat itulah gue teringat akan masa kecil gue. Masa dimana gue pernah kesiram air panas juga. Langsung dari termos, Bo…!
Saat itu, gue juga teriak kenceng sampai tante gue kaget dan langsung nyemperin gue.
“Kenapa, Dian?” tanyanya.
“Kesiram air panas, Tante,” jawab gue sambil meringis kesakitan. (gue lupa umur gue berapa tahun, mungkin kelas 3 atau 4 atau 5 atau 6 SD)
“Itu…, buru-buru dikasih minyak,” kata si Tante yang cantik seraya ngolesin tangan gue dengan minyak, habis itu langsung ditaburi garam. Duh… tangan gue… udah kayak makanan aja, pake digaremin segala, plus pake minyak lagi…
Nggak lama berselang, tangan malang gue itu (lupa, kanan atau kiri), agak menghitam. Perlahan, mengelupas dengan sendirinya dan—ajaibnya—sama sekali nggak ninggalin bekas apa-apa!
Hebat banget deh… resep tante gue itu…
Keinget masa kecil malang itu, gue-pun menaburkan garam di atas tangan gue.
“Kok dikasih garem?” tanya nyokap. Gue cuma ngangguk doang, males ngejelasin yang macem-macem.
Dan akhirnya gue berlalu. Dengan tangan kiri-nan-menyedihkan itu. Untungnya, gue lagi datang bulan, jadi tangan gue bisa aman dari terkena air.
Namun juga, sayangnya, saat peristiwa itu terjadi, gue lagi asyik-asyiknya baca novel. Novel itu novel pinjaman. Punya dosen gue, Mr. Aroya. Judul novel itu: MARYAMAH KARPOV!!!
Kebayang ‘kan, gimana nggak nyamannya baca novel tebel dengan satu tangan doang?!!!
Melas banget deh! Hu-hu-hu! Hiks! Pengin nangis… tapi… dengan lapang dada, gue tetep baca novel itu, bahkan hingga tamat, malam itu juga. Hanya dengan satu tangan dan saat itulah, gue jadi bersyukur bahwa gue dikaruniai dua tangan—kanan dan kiri.
(kata bijak: ketika kita mengalami suatu kesakitan, maka kita akan bersyukur betapa selama ini kita diberikan kenikmatan!)
Dan yang lebih membuat gue terharu lagi, karena gue teringat akan seseorang yang menginspirasikan hidup gue. Dia adalah seorang bapak—yang gue nggak tahu umurnya udah berapa—yang pernah gue temui di acara 2nd Islamic Book Fair di Senayan.
Bapak itu adalah seorang penulis. Nama penanya: Gola Gong!
You know I mean-lah…
He’s a great man!
Sumpah… gue jadi terharu… beliau aja, bisa jadi penulis hanya dengan satu tangannya!
Sementara gue…? Udah misuh-misuh gara-gara tangan kiri gue yang malang itu…!!!
Jadi salut gue sama kehebatan beliau…
Oh…, jadi pengin ketemu lagi…
Posted in gue? atau... aku? | Leave a Comment »
Akhirnya…, gue terkena demam minum kopi ala di café-café ternama. Tapi karena gue nggak rela ngebuang duit Rp. 30.000-an buat secangkir kopi di café, gue mutusin buat beli kopi sachet, seharga kisaran seribu-an-lah. Jadi… duit Rp. 30.000 bisa buat ngopi sebulan di rumah! (sehari satu sachet).
Biasanya, kadang-kadang, sehari, gue minum secangkir teh-manis, tapi gara-gara demam kopi itu, gue jadi ngelupain teh (sorry my tea!).
Dan yang paling enak adalah duduk senderan di tempat tidur, menyeruput kopi-gula-susu sambil baca novel judulnya: Maryamah Karpov, sambil cekikikan nggak jelas gara-gara beberapa hal lucu dalam novel itu.
Sumpah, itu adalah hal paling menyenangkan, sehingga gue nggak perlu kemana-mana. (look… my happiness at my room! I haven’t go anywhere!!!)
Gue emang baru dipinjemin novel terakhirnya Andre Hirata itu dari dosen gue (Mr. Aroya), padahal gue bilang minjemnya udah dari beberapa minggu yang lalu, tapi baru dapet antrian kemarin (10-01). Menyedihkan? Ya jelaslah…! Tapi… udah bagus dipenjemin! Daripada nggak sama sekali!
Kemarin (Sabtu, 10-01), gue ada kuliah pengganti Broadband Communication sama Mr. NAS (Nur-Akbar-Said) sampai jam setengah dua, di saat yang sama, Mr. Aroya juga ngajarin adik kelas gue, karena gue ada keperluan sama beliau, gue samperin beliau di lab Telkom (gue minta beliau ngisi form lab) dan nggak disangka beliau malah nanya,
“Udah baca?”
Kontan aja gue berpikir keras. Baca? Baca apaan?
Tapi… untungnya otak gue lagi nggak dodol, jadi gue langsung nyambung, maksudnya pasti: udah baca Maryamah Karpov?
Dan gue langsung bilang, “belum.”
Dan dosen itu menuju tasnya seraya mengambil novel itu dan langsung ngasih pinjam ke gue. Not bad-lah walaupun udah hampir sebulan kepingin pinjemnya! Yang penting dikasih pinjem!
“Tapi saya bacanya lama lho, Pak,” kata gue seraya memerhatikan buku itu. “Buku yang perlu dibaca udah pada ngantri di rumah,” imbuh gue lagi.
“Tapi jangan lama-lama banget,” kata dosen gue lagi.
“Nggak ada yang minjem setelah saya, kan?”
“Nggak sih.”
“Jadi lama nggak papa, ya…”
Beliau cuma tersenyum mengingat mahasiswi super aneh kayak gue ini! HAHAHAHA!
Dan jadilah di sore yang indah ini…, hujan dan dingin, gue menyeruput secangkir kopi-gula-susu sambil telungkup ketawa nggak jelas baca Maryamah Karpov.
Sebelumnya, sampai minggu pagi tadi, gue masih baca novel dengan judul: Dan Hujan-pun Berhenti (Farida Susanty). Padahal… gue beli novel itu bulan Mei 2007, tapi baru baca sampai tamat kemarin (11-01)! Gila kan!?
Gue beli novel itu-pun gara-gara judulnya mengandung kata menarik: hujan. Gue juga beli novel Sitta Karina yang judulnya Lukisan Hujan. Tapi…, dari dua novel itu, kok gue jadi pusing, ya? Hahaha! (Lukisan Hujan malah belum pernah gue baca bener-bener, sumpah, dibacanya pusing abis!)
Dan beberapa hari kemarin, gue mutusin buat baca sampai tamat novel Dan hujan-pun Berhenti, gara-gara (katanya) novel itu dapat nominasi sastra gitu deh… (lupa, sastra apaan).
Dan akhirnya beberapa hari, novel itu rampung juga dibaca, pas pertamanya emang pusing—bahkan sampai pertengahan, tapi… pas akhir-akhir, keren juga sih… dan mungkin gara-gara “memusingkan”, novel itu dapet nominasi?
Gue jadi mikir, kalau gue pengin dapet nominasi juga, berarti gue harus bikin novel yang “muter-muter” dan bikin pusing? Hahaha!
Posted in gue? atau... aku? | Leave a Comment »
Ini benar-benar sesuatu yang aneh, menurutku…
Dia menggunakan kata yang mengagetkanku…
Dia memakai kata, “gue…”
Oh!
Aku tak bisa bernapas. Sungguh!
Biasanya, dia selalu menggunakan kata, “saya…”
Tapi… kenapa sekarang berubah?
Atau karena aku telah berdamai pada hatiku,
Lalu memutuskan hanya berteman dengannya?
Entahlah.
Inilah percakapan kami:
aku: udh nonton laskar pelangi blm?
dia: udah
aku : have you time to read my story?
dia: no mind at all
aku : artinya?
dia: ok
dia: dimana?
aku : atau merasa lelah karena berlalri kencang mengejar angin???
aku : (message dari seseorang)
dia: gue asik-asik aja kali
aku : what’s?
aku : gue?
dia: what’s wrong
aku : ah, enggak…
aku : agak kaget aja
dia: gue, ana, aku, saya, awak, aing sama aja kan
aku : kenapa pemakaian katanya jadi berubah gitu?
dia: hanya bermain kata-kata
dia: eksplorasi ide
aku : gitu, y?
dia: awak cabut dulu ya, mo solat
dia: waslm
Posted in Sebuah Permainan | Leave a Comment »
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Segala puji hanyalah milik-Nya, yang patut untuk kita cintai setiap waktu.
Beberapa hari yang lalu (11/3), saya bertemu dengan seorang dosen, kami bertegur sapa hingga akhirnya terlibat dalam satu topik pembicaraan yang saya pikir cukup ringan untuk menemani waktu istirahat setelah makan siang. Mungkin juga di antara kalian ada yang pernah mendengar tentang cerita ini.
Memang, dari segi cerita, cerita itu tergolong sangat sederhana dan barangkali sangat sering kita temui di kehidupan sehari-hari kita, namun dari segi pelajaran, cerita itu sangat menarik untuk dikaji lebih dalam.
Cerita itu bukan mengenai makhluk Tuhan terhebat—menurut pandangan manusia—seperti halnya predator di zaman purba. Akan tetapi cerita itu adalah mengenai makhluk lain ciptaan Tuhan yang hidup di alam bebas nan liar.
Karena saya tidak terlalu menyimak pembicaraan sang dosen, maka untuk memudahkan saya bercerita, saya akan mengganti si tokoh utama binatang itu dengan kerbau.
Ceritanya sangat singkat, jadi dosen saya itu menonton sebuah acara peliputan binatang liar yang hidup, kalau tidak salah, di Afrika. Beliau bercerita bahwa pada suatu masa di mana musim tengah berganti, ada sekumpulan kerbau yang bermigrasi dari tempat awalnya ke tempat lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik; lebih spesifik mungkin mengenai makanan.
Mereka menempuh perjalanan panjang hingga tibalah mereka di sebuah sungai, lalu mereka secara bersama-sama berada di sungai itu untuk menikmati segarnya air dan sekadar bersenda gurau—dengan bahasa mereka tentunya—untuk melepas lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Biasanya, dalam sebuah kelompok, pasti ada yang muda, tua, kuat maupun lemah fisiknya. Begitupun dengan sekumpulan kerbau itu. Ada yang sudah tua, masih muda, kuat fisiknya dan lemah.
Suatu ketika, tepatnya saat mereka bersenang-senang di dalam air, datanglah seekor buaya yang telah mengetahui keberadaan mereka. Buaya itu mendekati dengan sangat perlahan.
Dan saat itu pula ada seekor kerbau yang dapat mengidentifikasi kedatangan buaya tersebut, maka dengan bahasa mereka, si kerbau tadi langsung memberi tahu temannya yang lain.
Secara bersamaan, tentu saja mereka semua menghindar dengan cara keluar dari sungai itu menuju daerah yang lebih tinggi. Namun sangat disayangkan—seperti yang saya sudah bilang sebelumnya—ada seekor kerbau dengan fisik yang lemah yang tidak bisa berjalan dengan cepat sehingga ia tertinggal oleh kawanannya. Bahkan karena permukaan tanah di sekitar sungai itu landai, si kerbau terjebak di batas antara sungai dan daerah yang lebih tinggi. Ia tidak bisa bergerak karena kondisi tanah yang gembur, semakin ia berusaha untuk bergerak naik, maka semakin besar peluang ia untuk tercebur ke sungai. Maka saat ini posisinya adalah sangat strategis untuk di kejar sang buaya dan menjadi santap siangnya.
Si kerbau memilih untuk diam di tempat tanpa bergerak—mungkin ia menghitung probabilitas kemungkinan mati dan hidup. Beberapa tempuh lagi, sang buaya bisa menyantapkan.
Apa yang ada di benak kalian saat ini?
Apakah kalian berpikir bahwa sang buaya akan menghampiri si kerbau lemah dengan sedikit lagi jarak yang harus ditempuh, yaitu menuju tempat si kerbau lemah berada dan ia akan menyantap sajian lezat yang Tuhan sodorkan untuknya?
Tak apa jika kalian berpikir demikian, memang secara akal manusia, yang akan terjadi adalah hal seperti itu.
Namun ternyata itu hanya dugaan manusia semata, mungkin kita lupa bahwa kita hanya mampu menduga, karena yang mampu menentukan segala sesuatu hanyalah Allah; maka kita harus cepat meminta ampunan-Nya.
Yang terjadi saat itu adalah si kerbau dalam keadaan diam dan ternyata sang buaya-pun ikut memilih diam di tempatnya; dia tidak serta-merta bersegera meraih santap siangnya.
Keadaan hening untuk beberapa jeda lamanya, mungkin karena mereka sama-sama tak menyangka akan saling diam seperti itu, hingga kemudian beberapa kerbau berinsiatif untuk kembali ke sungai karena mungkin dahaga belum terpuaskan karena sahara yang begitu gersang.
Jadilah kondisi seperti semula, semua kerbau—termasuk si lemah tadi—kembali berada di dalam sungai tanpa merasa takut akan keberadaan buaya tadi, tampaknya mereka tidak memedulikannya, bagai sekelompok manusia dengan seorang manusia asing yang tidak mereka kenal. Begitulah.
Hingga suatu ketika, ada seekor kerbau yang sangat kuat fisiknya dan sangat berwibawa di kelompok itu berjalan dengan pongahnya di tengah sungai sambil menikmati sejuknya air. Mungkin ia berpikir si kerbau lemah saja tidak dimangsa sang buaya, apalagi ia yang kuat fisiknya? Pastilah sang buaya berpikir seribu kali untuk memutuskan memangsa dirinya yang sangat kuat. Kerbau kuat itu begitu sombong.
Namun apa yang terjadi?
Tiba-tiba saja sang buaya langsung menyerbunya dan kerbau itu kontan saja menjadi santap siang mengeyangkan tak terduga bagi si buaya, kerbau kuat itu sendiri, maupun bagi kelompoknya—apalagi bagi si kerbau lemah yang tak pernah menyangka bahwa ternyata yang kuatlah yang harus berakhir riwayatnya di sungai tersebut.
Bahkan kita pun—sebagai makhluk yang diberikan berlimpah karunia—tak menyangka bahwa kejadiannya akan seperti itu!
Begitu melihat jatuhnya korban—apalagi yang terkuat fisiknya—kerbau-kerbau lainnya langsung saja menyebrangi sungai itu. Merekapun bisa selamat—bahkan kerbau lemah tadi yang hampir menjadi santap siang sang buaya bisa menyebrangi sungai walau dengan gerakan perlahan.
Lantas, apa yang kita dapat dari cerita ini?
Bukankah hendaknya kita merenungi setiap kejadian yang kita lihat, kita alami dan kita rasakan?
Bisakah kita mendapat pelajaran dari kejadian ini?
Mungkin beberapa di antaranya bisa saya paparkan, namun bila kalian tidak setuju dengan pendapat saya atau ada yang ingin ditambahkan, silakan kirim ke e-mail saya: —————–@—–.—, dan marilah kita bertukar pikiran secara terbuka.
Yang pertama, bahwa kita sebagai manusia seringkali berpikiran bahwa kita adalah makhluk paling sempurna yang bisa menentukan apa saja yang kita kehendaki menjadi kenyataan. Tapi nyatanya—paling tidak dalam kisah ini—kita sama sekali salah dugaan dan itu membuktikan bahwa kita benar-benar bukan makhluk paling sempurna yang Tuhan ciptakan di dunia ini, karena pada dasarnya setiap makhluk diciptakan hanya untuk satu tujuan seperti yang tertulis dalam Kalam-Nya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzaariyat: 56)
Maka, apakah masih pantas jika kita tidak mau beribadah kepada-Nya?
Yang kedua, bahwa hidup kita adalah bergantung kepada-Nya, seperti dalam Surah Al Ikhlas ayat 2, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dengan demikian seyogyanya kita hanya akan meminta setiap apa-apa yang kita inginkan hanya kepada-Nya, bukan kepada yang lainnya atau bahkan sama sekali bukan kepada manusia yang sebenarnya sama posisinya dengan kita di mata Allah kecuali orang-orang tertentu yang memang ditinggikan derajatnya oleh Sang Maha Pencipta.
… Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang Memiliki arasy (singgasana) yang agung. (QS. At Taubah: 129)
Maka kita wajib berdo’a,
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami sadari. Kami mohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui. (Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan Sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Khudzaifah, hanya saja Khudzhaifah berkata, “Beliau (Rasulullah SAW.) membacanya tiga kali.”)
Mungkin dari kisah tadi, saat sang buaya dan kerbau lemah saling berdiam, keduanya tidak melakukan apa-apa melainkan berdo’a kepada Tuhan-nya, karena itulah inti dari kehidupan kita.
Jika binatang yang tak memiliki akal saja mau berdo’a, bagaimana dengan kita?
Yang ketiga, adalah pesan moral mengenai kesombongan. Kita bisa mendapat kesimpulan bahwa si kerbau kuat nan gagah mati karena kepongahannya melintas di depan sang buaya. Maka sesungguhnya kita tak pernah pantas untuk bersombong diri apalagi jika kesombongan itu dikarenakan oleh kemurahan yang Allah berikan kepada kita seperti otak yang cerdas, wajah yang menawan, tubuh yang indah. Bukankah Allah telah berfirman:
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang Diberikan-nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri, (QS. Al Hadid: 22-23)
Bahkan Iblis-pun dikeluarkan dari surga karena kesombongannya.
(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
Kemudian apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan aku Tiupkan roh(ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.”
Lalu para malaikat itu bersujud semuanya,
kecuali iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.
(Allah) berfirman, “Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku Ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”
(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau Ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau Ciptakan dari tanah.”
(Allah) berfirman, “Kalau begitu keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.
Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.”
(QS. Shad: 71-78)
Dengan demikian, yang pantas bersombong hanyalah Allah, karena Ia-lah Yang Maha Memiliki segala sesuatunya. Apakah kita ingin menyesal di hari akhir karena kesombongan kita, padahal Allah-lah yang memberikan kita semua karunianya dengan keMahaPemurahan-Nya itu?
Yang keempat, mengenai kesabaran. Hal itu dapat kita kaji dari tingkah pola sang buaya yang memilih berdiam di tempatnya dibanding mengejar si kerbau lemah, padahal—menurut pemikiran manusia biasa seperti kita—buaya itu akan langsung bisa menerkam mangsanya tanpa harus menunggu dulu. Namun yang dilakukannya adalah berdiam dan sekaligus bersabar, mungkin ia tahu mengenai perintah Tuhannya,
Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah siap-siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)
Allah itu Maha Benar. Apa yang diperintahkan-Nya dalam ayat di atas sangat terbukti dalam kisah yang telah dipaparkan. Bagaimana tidak? Kita bisa mengetahui bahwa sang buaya menjadi sangat beruntung karena kesabarannya itu, dia yang kita perkirakan akan mendapat kerbau lemah, akhirnya mendapat kerbau yang kuat yang tentu saja rasanya pasti jauh lebih nikmat.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? (QS. Ar Rahman: 13)
Posted in Sesuatu yang Serius | Leave a Comment »